TUGAS AKHIR MODUL 3 - PEDAGOGIK

 

TUGAS AKHIR MODUL 3

 

PENGORGANISASIAN INFORMASI/PENGETAHUAN

DALAM INGATAN MANUSIA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DOSEN PEMBIMBING

 

Dra. ERMAWATI ARIEF, M.Pd.

 

 

DISUSUN OLEH

 

SABARANI, S.Pd.

SMA Negeri 1 Lingga Utara

Mahasiswa PPG Dalam Jabatan Angkatan III

 

 

 FAKULTAS BAHASA DAN SENI

UNIVERSITAS NEGERI PADANG

TAHUN 2019


BAB I

PENDAHULUAN

1.1.     Latar Belakang

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, manusia dikaruniai fisik yang bagus. Manusia juga dikaruniai otak sebagai modal utama dalam proses berpikir dan pengorganisasian informasi/pengetahuan. Menurut Marzuki (2012), manusia merupakan satu bagian dari alam semesta yang bersama-sama dengan makhluk hidup lainnya mengisi kehidupan di alam semesta ini. Dibandingkan dengan binatang, manusia memiliki fungsi tubuh dan fisiologis yang tidak berbeda. Namun, dalam hal yang lain manusia tidak dapat disamakan dengan binatang, terutama dengan kelebihan yang dimilikinya, yakni akal yang tidak dimiliki oleh binatang.

Semua hal yang dilakukan oleh manusia tentu melibatkan kerja otak. Hal ini dikarenakan otak merupakan pusat kendali pemikiran dan perilaku manusia.. Menurut Markowitz dan Jensen (2002), otak merupakan tempat menerima, menyimpan kemudian mengenali informasi yang ada. Artinya otak adalah pusat ingatan manusia. Di dalam otak tersimpan berbagai macam informasi. Bermacam-macam jenis ingatan juga ada dalam otak manusia. Selama otak dalam keadaan sehat manusia akan selalu melakukan proses mengingat.

Menurut Wulandari (2009), proses mengingat adalah proses biologi yang secara alami pasti terjadi pada manusia. Selain sebagai proses biologi, mengingat juga merupakan proses mental. Proses ini bukan merupakan kemampuan bawaan yang diturunkan dari orang tua kepada anak, artinya belum tentu orang tua yang mempunyai kemampuan mengingat rendah anaknya akan mempunyai kemampuan mengingat yang rendah pula.

Gie (1995) mengemukakan betapapun kuatnya ingatan seseorang pada suatu waktu kemudian ingatan itu akan mengalami suatu proses kelupaan. Ingatan pada suatu ketika tidak dapat lagi menghadirkan suatu keterangan yang diperlukan karena lupa. Kelupaan terjadi karena tiada penggunaan. Hal ini dijelaskan dalam teori memudar pasif (passive decay theory) bahwa ingatan membuat jejak fisik dalam otak seseorang yang lama-lama terhapus dengan berlalunya waktu. Kelupaan dapat dikurangi dengan meningkatkan kemampuan mengingat, sehingga informasi yang diterima maupun yang telah tersimpan dalam ingatan dapat bertahan lebih lama.

Sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna, manusia tentunya memiliki pengorganisasian informasi/pengetahuan dalam ingatannya. Tulisan ini akan membahas pengertian pengorganisasian informasi/pengetahuan dalam ingatan manusia, struktur pengorganisasian informasi/pengetahuan dalam ingatan manusia, dan aplikasi pengorganisasian informasi/pengetahuan dalam ingatan manusia terhadap teori belajar dan pembelajaran dan penerapannya dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

 

1.2.     Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan sebagai berikut:

1.2.1.   Apakah yang dimaksud dengan pengorganisasian informasi /pengetahuan dalam ingatan manusia?

1.2.2.   Bagaimana struktur pengorganisasian informasi/pengetahuan dalam ingatan manusia?

1.2.3.   Apa saja aplikasi pengorganisasian informasi/pengetahuan dalam ingatan manusia terhadap teori belajar dan pembelajaran dan penerapannya dalam pembelajaran bahasa Indonesia?

 

1.3.     Tujuan Penulisan

Berdasarkan rumusan masalah yang sudah diuraikan di atas, maka tujuan penulisan ini adalah sebagai berikut:

1.3.1.   Untuk mengetahui pengertian pengorganisasian informasi /pengetahuan dalam ingatan manusia.

1.3.2.   Untuk mengetahui struktur pengorganisasian informasi/pengetahuan dalam ingatan manusia.

1.3.3.   Untuk mengetahui aplikasi pengorganisasian informasi/pengetahuan dalam ingatan manusia terhadap teori belajar dan pembelajaran dan penerapannya dalam pembelajaran bahasa Indonesia.

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1.     Pengertian Pengorganisasian Informasi/Pengetahuan dalam Ingatan Manusia

Pengorganisasian informasi yang terjadi disimpan dalam memori berupa sebuah pengalaman belajar. Informasi terus menerobos pikiran melalui panca indera kita, sebagian ada yang disimpan dalam ingatan kita dalam waktu yang singkat dan kemudian dilupakan. Pentingnya pengorganisasian informasi dalam ingatan manusia agar mempermudah kegiatan belajar dan tetap konsisten dalam sistem penyelesaian masalah tiap individu.

Menurut Anderson (1980), pengolahan informasi merupakan perluasan dari bidang kajian ranah psikologi kognitif. Ranah psikologi kognitif ini sebagai upaya untuk memahami mekanisme dasar yang mengatur cara berpikirnya orang. Teori pengolahan informasi memiliki suatu perbedaan dengan teori belajar yaitu pada derajat penekanan pada soal belajar. Teori pengolahan informasi tidak memberlakukan belajar sebagai titik pusat penelitian yang utama melainkan juga melihat sisi lainnya, seperti pada informasi yang diperoleh ataupun melihat kemampuan memori seorang individu. Penelitian pengolahan informasi memberikan sumbangan atas pengertian proses belajar. Belajar dan pengolahan informasi adalah dua aspek yang saling melengkapi.

Gito (2018) mengatakan bahwa pengolahan informasi mengandung pengertian tentang bagaimana seorang individu mempersepsi, mengorganisasi, dan mengingat sejumlah besar informasi yang diterima individu dari lingkungan. Hal yang demikian juga dapat dikatakan bahwa pengolahan informasi dapat dikatakan sebagai bentuk respon individu terhadap informasi yang di berikan oleh lingkungan di sekitarnya.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), perorganisasian adalah proses, cara, perbuatan mengorganisasi. Secara harafiah, pengorganisasian informasi/pengetahuan merupakan salah satu cara atau proses untuk mengorganisasikan informasi/pengetahuan. Informasi /pengetahuan didapatkan manusia dari pengalaman hidupnya.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa pengorganisasian informasi/pengetahuan dalam ingatan manusia merupakan cara atau proses seorang individu untuk mengorganisasi dan mengingat sejumlah informasi/pengetahuan yang diperoleh berdasarkan pengalaman yang melekat dalam ingatan atau memori.

2.2.     Struktur  Pengorganisasian Informasi/Pengetahuan dalam Ingatan Manusia

Struktur pengorganisaisan informasi dapat dibedakan menjadi tiga sistem, yaitu: (a) sistem ingatan sensorik (sensory memory), (b) sistem ingatan jangka pendek atau short term memory (STM), dan (c) sistem ingatan jangka panjang atau long term memory (LTM). Sistem ingatan tersebut dikenal sebagai model paradigma Atkinson dan Shiffrin yang telah disempurnakan oleh Tulving dan Madigan (Solso, 1995).

a)     Sistem Ingatan Sensorik (Sensory Memory)

Memori sensori mencatat informasi atau stimulus yang masuk melalui salah satu atau kombinasi dari panca indra, yaitu secara visual melalui mata, pendengaran melalui telinga, bau melalui hidung, rasa melalui lidah, dan rabaan melalui kulit. Bila informasi atau stimulus tersebut tidak diperhatikan akan langsung terlupakan, namun bila diperhati kan maka informasi tersebut ditransfer ke sistem ingatan jangka pendek..

b)     Memori Jangka Pendek (Short Term Memory)

Memori jangka pendek memiliki kapasitas yang kecil sekali, namun sangat besar peranannya dalam proses memori, yang merupakan tempat dimana kita memproses stimulus yang berasal dari lingkungan kita. Kemampuan penyimpanan informasi yang kecil tersebut sesuai dengan kapasitas pemrosesan yang terbatas. Memori jangka pendek berfungsi sebagai penyimpanan transitori yang dapat menyimpan informasi yang sangat terbatas dan mentransformasikan serta menggunakan informasi tersebut dalam menghasilkan respon atas suatu stimulus.

 

c)     Memori Jangka Panjang (Long Term Memory)

Kemampuan untuk mengingat masa lalu dan menggunakan informasi tersebut untuk dimanfaatkan saat ini merupakan fungsi dari memori jangka panjang. Sistem memori jangka panjang memungkinkan kita untuk seolaholah hidup dalam dua dunia, yaitu dunia masa lalu dan saat sekarang ini, dan oleh karenanya memungkinkan kita untuk memahami mengalirnya tanpa henti dari pengalaman langsung. Halhal yang paling istimewa dari memori jangka panjang adalah kapasitasnya yang tidak terbatas dan durasinya yang seolaholah tak pernah berakhir.  

2.3.     Aplikasi Pengorganisasian Informasi/Pengetahuan dalam Ingatan Manusia terhadap Teori Belajar dan Pembelajaran dan Penerapannya dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

 

a)     Teori Behavioristik

Menurut teori behavioristik, belajar merupakan bentuk perubahan yang dialami siswa dalam hal kemampuannya untuk bertingkah laku dengan cara yang baru sebagai hasil interaksi antara stimulus dan respon. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru dapat menerapkan metode pembelajaran komunikatif (comunative learning) yang mencakup keterampilan membaca, menulis mendengar dan berbicara.

 

b)     Teori Kognitif

Teori kognitif menekankan pada proses perkembangan siswa. Penerapan teori kognitif ini contohnya pada pembelajaran mandiri. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru dapat menerapkan metode pembelajaran kontekstual (contextual learning). Metode kontekstual  adalah suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka.

 

c)     Teori Konstruktivistik

Teori belajar konstruktivistik mengakui bahwa siswa akan dapat menginterpretasikan informasi ke dalam pikirannya, hanya pada konteks pengalaman dan pengetahuan mereka sendiri. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru dapat menerapkan menerapkan metode pembelajararan kooperatif (cooperative learning), yaitu proses pembelajaran yang berbasis kerja sama antarsiswa komponen lain di sekolah. Siswa belajar untuk saling membantu dan berlatih beinteraksi, berkomunikasi, dan bersosialisasi karena koperatif adalah miniatur dari hidup bermasyarakat.

 

d)     Teori Humanistik

Teori humanistik sangat mementingkan isi yang dipelajari dari pada proses belajar itu sendiri. Dalam pembelajaran bahasa Indonesia, guru dapat menerapkan metode cooperative learning karena di dalamnya terdapat nilai-nilai humanistik. yakni tanggung- jawab, saling menghargai, saling ketergantungan positif, kerja sama, merasa senasib sepenanggungan, dan sebagainya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

SIMPULAN

 

Berdasarkan penjelasan-penjelasan di atas, dapat ditarik beberapa kesimpulan, di antaranya:

1)     Pengorganisasian informasi/pengetahuan dalam ingatan manusia merupakan cara atau proses seorang individu untuk mengorganisasi dan mengingat sejumlah informasi/pengetahuan yang diperoleh berdasarkan pengalaman yang melekat dalam ingatan atau memori.

2)     Terdapat tiga struktur pengorganisasian informasi/pengetahuan dalam ingatan manusia yaitu: (a) Sistem Ingatan Sensorik (Sensory Memory); (b) Memori Jangka Pendek (Short Term Memory); dan (c) Memori Jangka Panjang (Long Term Memory).

3)     Konsep pengorganisasian informasi/pengetahuan dalam ingatan manusia sejalan dengan teori belajar dan pembelajaran (teori behavioristik, teori kognitif, teori konstruktivistik, dan teori humanistik. Penerapan konsep tersebut dalam pembelajaran bahasa Indonesia yaitu: (a) guru dapat menerapkan metode pembelajaran komunikatif (comunative learning) yang mencakup keterampilan membaca, menulis mendengar dan berbicara; (b) guru dapat menerapkan metode pembelajaran kontekstual (contextual learning) yaitu suatu strategi pembelajaran yang menekankan kepada proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka; (c) guru dapat menerapkan menerapkan metode pembelajararan kooperatif (cooperative learning), yaitu proses pembelajaran yang berbasis kerja sama antarsiswa komponen lain di sekolah; dan (d) guru dapat menerapkan metode cooperative learning karena di dalamnya terdapat nilai-nilai humanistik. yakni tanggung- jawab, saling menghargai, saling ketergantungan positif, kerja sama, merasa senasib sepenanggungan, dan sebagainya.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, B.F. 1980. The Complete Thinker: A Handbook of Theniques For Creative and Critical Problem Solving. New Jersey: Englewood Cliffs.

Bhinnety, Magda. 2008. Jurnal: Struktur dan Proses Memori. Yogyakarta: Universitas Gajah Mada.

Departemen Pendidikan Indonesia. 2008. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka

Markowitz, dkk. 2002. Otak Sejuta Gigabyte. Bandung: Kaifa.

Marzuki. 2012. Pembinaan Karakter Manusia melalui Pendidikan Agama Islam. Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.

Purwono, Gito. 2018. Pengorganisasian Informasi / Pengetahuan dalam Ingatan Manusia. Banjarmasin: Universitas Lambung Mangkurat.

Solso, R.L. 1995. Cognitive Psychology (4th ed). Boston: Allyn and Bacon, Inc.

The Liang Gie. 1995. Cara Belajar yang Efisien Jilid II Edisi keempat (diperbaharui). Yogyakarta: Liberty.

Wulandari Putri. 2009. Perbedaan Kemampuan Mengingat Ditinjau dari Gaya Belajar. Surakarta: Universitas Muhammadiyah Surakarta.

 

 

 

 

 

 

 

 

Komentar